Rabu, 21 Maret 2012

Arti Warna Feses Bayi


KENALI WARNA DAN BENTUK FESES BAYI

Frekuensi yang sering bukan berarti pencernaannya terganggu.
Waspadai bila warnanya putih atau disertai darah. Kegiatan buang air besar pada bayi
kadang membuat khawatir orang tua. Warna, bentuk dan polanya yang berbeda
dengan orang dewasa inilah yang kerap menimbulkan kecemasan. Sebelum kita
menjadi cemas, berikut penjelasan dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A, tentang feses bayi.

WARNA

Umumnya, warna-warna tinja pada bayi dapat dibedakan menjadi kuning
atau cokelat, hijau, merah, dan putih atau keabu-abuan. Normal atau
tidaknya sistem pencernaan bayi, dapat dideteksi dari warna-warna tinja
tersebut.

Kuning

Warna kuning diindikasikan sebagai feses yang normal. Kata Waldi,
warna feses bayi sangat dipengaruhi oleh susu yang dikomsumsinya. "Bila
bayi minum ASI secara eksklusif, tinjanya berwarna lebih cerah dan cemerlang
atau didominasi warna kuning, karenanya disebut golden feces. Berarti ia
mendapat ASI penuh, dari foremilk (ASI depan) hingga hindmilk (ASI belakang)."

Warna kuning timbul dari proses pencernaan lemak yang dibantu oleh
cairan empedu. Cairan empedu dibuat di dalam hati dan disimpan beberapa
waktu di dalam kandung empedu sampai saatnya dikeluarkan. Bila di dalam usus
terdapat lemak yang berasal dari makanan, kandung empedu akan berkontraksi
(mengecilkan ukurannya) untuk memeras cairannya keluar. Cairan empedu ini
akan memecah lemak menjadi zat yang dapat diserap usus.

Sedangkan bila yang diminum susu formula, atau ASI dicampur susu
formula, warna feses akan menjadi lebih gelap, seperti kuning tua, agak
cokelat,cokelat tua, kuning kecoklatan atau cokelat kehijauan.

Hijau

Feses berwarna hijau juga termasuk kategori normal. Meskipun begitu,
warna ini tidak boleh terus-menerus muncul. "Ini berarti cara ibu
memberikan ASI-nya belum benar. Yang terisap oleh bayi hanya foremilk saja,
sedangkan hindmilk-nya tidak." Kasus demikian umumnya terjadi kalau produksi
ASI sangat melimpah.

Di dalam payudaranya, ibu memiliki ASI depan (foremilik) dan ASI
belakang (hindmilk). Pada saat bayi menyusu, ia akan selalu mengisap ASI
depan lebih dulu. Bagian ini mempunyai lebih banyak kandungan gula dan laktosa
tapi rendah lemak. Sifatnya yang mudah dan cepat diserap membuat bayi
sering lapar kembali. Sedangkan, ASI belakang (hindmilk) akan terisap kalau
foremilk yang keluar lebih dulu sudah habis. Hindmilk mengandung
banyak lemak. "Lemak ini yang membuat tinja menjadi kuning."

Nah, kalau bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit
lemak dan banyak gula, kadang-kadang terjadi perubahan pada proses pencernaan
yang akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari
situ terbentuk gas yang terlalu banyak (kentut melulu), sehingga bayi
merasa tak nyaman (kolik).

Mestinya yang bagus itu tidak hijau terus, tapi hijau kuning, hijau
dan kuning, bergantian. "Ini berarti bayi mendapat ASI yang komplet, dari
foremilk sampai hindmilk supaya kandungan gizinya komplet. Nah, ibu
harus mengusahakan agar bayinya mendapat foremilk dan hindmilk sekaligus."

Sayangnya, disamping ASI, ibu juga kerap memberikan tambahan susu
formula. Sebelum proses menyusunya mencapai hindmilk, anak sudah telanjur
diberi susu formula hingga kenyang. Akibatnya, ia hanya mendapat ASI foremilk
saja.

Waldi menyarankan, "Berikan ASI secara eksklusif. Perbaiki penatalaksanaan
pemberiannya agar bayi bisa mendapat foremilk dan hindmilk." Kiatnya mudah;
susui bayi dengan salah satu payudara sampai ASI di situ habis, baru pindah ke payudara berikutnya.

Merah

Warna merah pada kotoran bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah
yang menyertai. Namun dokter tetap akan melihat, apakah merah itu
disebabkan darah dari tubuhnya sendiri atau dari ibunya.

Jika bayi sempat mengisap darah ibunya pada proses persalinan, maka
pada fesesnya akan ditemukan bercak hitam yang merupakan darah. Umumnya
bercak itu muncul selama satu sampai tiga hari. "Jadi, tinggal dites saja,
asalnya dari mana? Dari darah ibu atau darah bayi." Bila darah itu tetap
muncul pada fesesnya (bisa cair ataupun bergumpal), dan ternyata bukan berasal
dari darah ibu, maka perlu diperiksa lebih lanjut. Kemungkinannya hanya
dua, yaitu alergi susu formula bila bayi sudah mendapatkannya, dan
penyumbatan pada usus yang disebut invaginasi. Dua-duanya butuh penanganan. Kalau
ternyata invaginasi, bayi harus segera dioperasi.

"Darah ini sangat jarang berasal dari disentri amuba atau basiler,
karena makanan bayi, kan, belum banyak ragamnya dan belum makan makanan yang
kotor." Kalau penyakitnya serius, biasanya bayi juga punya keluhan lain,
seperti perutnya membuncit atau menegang, muntah, demam, rewel dan kesakitan.

Putih/Keabua-abuan

Waspadai segera jika feses bayi yang baru lahir berwarna kuning
pucat atau putih keabu-abuan. Baik yang encer ataupun padat. Warna putih
menunjukkan gangguan yang paling riskan. Bisa disebabkan gangguan pada hati atau
penyumbatan saluran empedu. "Ini berarti cairan empedunya tidak bisa mewarnai tinja, dan ini tidak boleh terjadi karena sudah ‘lampu merah’."
Waldi menegaskan, bila bayi sampai mengeluarkan tinja berwarna
putih, saat itu juga ia harus dibawa ke dokter. Jangan menundanya sampai
berminggu-minggu karena pasti ada masalah serius yang harus diselesaikan
sebelum bayi berumur tiga bulan. Sebagai langkah pertama, umumnya dokter
akan segera melakukan USG pada hati dan saluran empedunya.

"Yang sering terjadi, ibu terlambat membawa bayinya. Dipikirnya
tinja ini nantinya akan berubah. Padahal kalau dibiarkan, dan bayinya baru
dibawa ke dokter sesudah berumur di atas tiga bulan, saat itu si bayi sudah
tidak bisa diapa-apakan lagi karena umumnya sudah mengalami kerusakan hati.
Pilihannya tinggal transplantasi hati yang masih merupakan tindakan pengobatan
yang sangat mahal di Indonesia."

BENTUK

Feses bayi di dua hari pertama setelah persalinan biasanya berbentuk
seperti ter atau aspal lembek. Zat buangan ini berasal dari pencernaan bayi
yang dibawa dari kandungan. Setelah itu, feses bayi bisa bergumpal-gumpal
seperti jeli, padat, berbiji/seeded dan bisa juga berupa cairan.

Feses bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya tidak berbentuk, bisa
seperti pasta/krem, berbiji (seeded), dan bisa juga seperti mencret/cair.
Sedangkan feses bayi yang diberi susu formula berbentuk padat, bergumpal-
gumpal atau agak liat dan merongkol/bulat. Makanya bayi yang mengonsumsi susu
formula, kadang suka bebelan (susah buang air besar, Red), sedangkan yang
mendapat ASI tidak.

Bila bayi yang sudah minum susu formula mengeluarkan feses berbentuk
cair,hal itu perlu dicurigai. "Bisa jadi si bayi alergi terhadap susu
formula yang dikonsumsinya atau susu itu tercemar bakteri yang mengganggu
usus."

Kesulitan mendeteksi normal tidaknya feses akan terjadi bila ibu memberikan
ASI yang diselang-seling susu formula. Misalnya, akan sulit menentukan
apakah feses yang cair/mencret itu berasal dari ASI atau susu
formula.

"Kalau mencretnya karena minum ASI, ini normal-normal saja karena
sistem pencernaannya memang belum sempurna. Tetap susui bayi agar ia tidak
mengalami dehidrasi. Tapi bila mencretnya disertai keluhan demam, muntah,
atau keluhan lain, dan jumlahnya sangat banyak serta mancur, berarti memang
ada masalah dengan bayi. Ia harus segera dibawa ke dokter.

FREKUENSI

Masalah frekuensi sering mencemaskan ibu, karena frekuensi BAB bayi
tidak sama dengan orang dewasa. Kalau ibu mungkin sehari cuma sekali, jadi
kalau anaknya sampai lima kali sehari, ini sudah membuat cemas."

Padahal frekuensi BAB setiap bayi berbeda-beda. Bahkan, bayi yang
sama pun, frekuensi BAB-nya akan berbeda di minggu ini dan minggu
depannya. "Itu karena bayi belum menemukan pola yang pas. Umumnya di empat atau
lima minggu pertama, dalam sehari bisa lebih dari lima kali atau enam kali.
Enggak masalah, selama pertumbuhannya bagus."

Bayi yang minum ASI eksklusif, sebaliknya bisa saja tidak BAB selama
dua sampai empat hari. Bahkan bisa tujuh hari sekali. Bukan berarti ia
mengalami gangguan sembelit, tapi bisa saja karena memang tidak ada ampas
makanan yang harus dikeluarkan. Semuanya dapat diserap dengan baik. Feses yang
keluar setelah itu juga harus tetap normal seperti pasta. Tidak cair yang
disertai banyak lendir, atau berbau busuk dan disertai demam dan penurunan
berat badan bayi.

"Jadi yang penting lihat pertumbuhannya, apakah anak tidak rewel dan
minumnya bagus. Kalau tiga hari belum BAB, dan bayinya anteng-anteng
saja, mungkin memang belum waktunya BAB."

Santi Hartono. Ilustrator: Pugoeh



Harus BAB Dalam 24 Jam Pertama

Bayi yang pencernaannya normal, akan BAB pada 24 jam pertama setelah
dilahirkan. BAB pertama ini disebut mekonium. Biasanya berwarna hitam
kehijau-hijauan dan lengket seperti aspal yang merupakan produk dari
sel-sel yang diproduksi dalam saluran cerna selama ia dalam kandungan.

BAB pertama dalam 24 jam penting artinya, karena menjadi indikasi
apakah pencernaannya normal atau tidak. "Ada penyakit yang bisa ditentukan
dengan melihat apakah BAB pertama dalam 24 jam terjadi atau tidak," kata
Waldi. Contohnya, penyakit Hirschsprung yang merupakan gangguan pengeluaran
tinja akibat tidak adanya syaraf tertentu pada usus sebelah bawah.

BAB ini juga bisa dijadikan patokan oleh dokter kalau bayi mengalami
masalah pencernaan di kemudian hari. Misalnya, kalau BAB tidak lancar di
minggu berikut. "Bila catatan menunjukkan bahwa si bayi melakukan BAB pada
kurun 24 jam sesudah lahir, dokter akan mengesampingkan kemungkinan
Hirschsprung atau penyumbatan. Jika tidak, dokter akan memikirkan kemungkinan-
kemungkinan ini,dan biasanya jawabannya adalah operasi."

Itulah sebabnya, penting bagi para ibu yang habis bersalin untuk
menanyakan pada suster/bidan apakah bayinya sudah BAB dalam waktu 24 jam.
Jangan lupa mengingatkan suster/bidan untuk mencatatnya di buku anak, karena
catatan ini penting di kemudian hari.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Subsequently after looking at several of the blog articles
on your website (for almost 4), hours I candidly like your
method of blogging. I added it as a favorite it into my bookmarks list and will be keeping track in the
near future. Check out my own personal blog if you get the chance and give me your thoughts.
.

Review my page: mothers